Kesedihan Seorang (Mantan) Demonstran

Tanpa bermaksud untuk bernostalgia masa lalu, tapi nampaknya pola dan indikasi aksi demonstrasi akhir-akhir ini berbeda jauh dengan yang aku alami pada tahun 98….. Mungkin benar adagium demokrasi bahwa “BERSATU KARENA MEMILIKI KEPENTINGAN YANG SAMA”. Mungkin saat ini para demonstran TIDAK PUNYA KEPENTINGAN YANG SAMA.

Mencoba membuka lembaran lama, ya sudah hampir 11 tahun yang lalu, ketika aku menjadi salah seorang dari sekian puluh ratus ribu juta mahasiswa di seluruh indonesia….tergambar lagi barisan para mahasiswa yang membentuk sebuah rangkaian layaknya gerbong kereta raksasa….memburit dari depan Alun-Alun Utara sampai ke Graha Sabha Pramana UGM….TIDAK ADA ANARKISME….bahkan masyarakat semua mengelu-elukan kami….sepanjang Jalan Malioboro seluruh toko tutup….bukan karena takut kerusuhan, tapi mereka ikut berpartisipasi dengan menyediakan makanan dan minuman yang terhampar di pinggir-pinggir jalan…Ah indahnya demonstrasi kala itu….

Segera tersadar dari lamunan masa lalu….sedih rasanya melihat bagaimana anarkis-nya demonstrasi saat ini, menjebol pagar, menghancurkan bangunan-bangunan yang dibangun dengan uang dari PETANI, BURUH, NELAYAN…Sedih rasanya melihat kebrutalan mereka memukuli seorang anak manusia yang bernyawa….Menghalang-halangi mobil yang akan membawa seorang anak manusia yang sedang SEKARAT untuk mencari pertolongan….Terlepas apakah sesungguhnya penyebab kematian seorang anak manusia tadi, yang pasti hatiku tercabik-cabik melihat nurani para demonstran ini seperti yang tercabut dari raganya……

Ah mataku jadi berkaca-kaca….Tapi jujur saja aku memang tak mampu menutupi kesedihan dan kekecewaan sebagi seorang anak negeri ini yang begitu menginginkan perdamaian….Sedihku terbawa air hujan yang rintik-rintik membasahi atap rumahku di pagi ini…..

Purwakarta, 4 Februari 2009 pkl 05.30 WIB

Dari atas meja reot di depan laptop murahan….

Komentar

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.